Ketahui Apa itu Cacar Monyet, Gejalanya, serta Cara Mencegahnya

Ketahui Apa itu Cacar Monyet, Gejalanya, serta Cara Mencegahnya

Tridinamika.com - 02/09/2022, 12:00 WIB

Tridinamika.com – Setelah wabah pandemi covid-19 selama dua tahun akhirnya menunjukkan tren menurun, kembali muncul wabah cacar monyet atau monkeypox di berbagai negara. Tentunya ini tidak bisa dipandang sebelah mata untuk setiap orang. Wabah ini menyebar dengan cepat di berbagai negara. Ditemukan beberapa kasus pada 2019 di negara Singapura menandakan virus ini tidak hanya menyebar di wilayah Afrika saja.

Tren menurunnya angka covid-19 membuat harapan setiap orang bahwa pandemi akan segera berlalu dan bisa kembali normal seperti sedia kala. Kelonggaran yang sekarang telah diberikan oleh masing – masing pemangku kebijakan berbagai negara, menandakan bahwa hampir berlalunya masa pandemi kemarin yang merubah tatanan kegiatan setiap orang selama 2 tahun lebih lamanya. Namun ditengah – tengah tren ini, WHO menerima laporan bahwa adanya kemunculan penyakit Cacar Monyet ( Monkeypox ) dari beberapa negara.

Hal ini tentunya membuat pemangku kebijakan kesehatan setiap negara kembali harus waspada. Banyak orang yang pasti akan cemas dengan kedatangan wabah baru ini setelah sekian lama berhadapan dengan wabah virus Covid-19. Namun, apa itu penyakit cacar monyet? Bagaimana gejala yang ditimbulkan? Dan bagaimana cara mencegahnya?

Apa itu cacar monyet?

Cacar monyet adalah suatu penyakit yang berasal dari virus yang bernama Orthopoxvirus yang ditularkan dari hewan kepada manusia. Terdapat dua kelompok virus, pertama berasal dari negara Afrika bagian tengah dan kedua dari negara Afrika bagian barat dan telah menyebar ke daerah – daerah lain. Bahkan saat ini sudah menjadi pandemi di beberapa negara. Kelompok virus yang berasal dari Kongo disebut – sebut yang paling parah dan yang paling menular.

Penularan virus ini dari hewan ke manusia biasanya melalui sentuhan kulit, luka, atau darah hewan. Selain itu, diyakini penularan ke manusia juga bisa melalui makanan, seperti daging yang kurang matang.

Sebenarnya penyakit ini pertama kali muncul pada tahun 1970
di Kongo pada bayi laki – laki umur 9 bulan. Semenjak itu, cacar monyet ini
menyebar luas terutama ke negara Nigeria. Kasus cacar monyet diluar Afrika
dilaporkan pada tahun 2003 di Amerika Serikat yang menyebabkan lebih dari 70
kasus infeksi. Pada tahun 2018, dilaporkan kembali telah menyebar ke Israel dan
Inggris. Kemudian pada tahun 2019 dikonfirmasi telah menyebar di Singapura.
Namun pada tahun 2022 ditemukan telah menyebar ke 12 negara secara bersamaan.
Maka saat ini virus cacar monyet tidak lagi di Afrika saja tetapi telah
menyebar ke seluruh negara.

Seperti apa gejala cacar monyet?

Biasanya orang yang terinfeksi virus ini akan mengalami masa inkubasi virus selama selama 5 sampai dengan 21 hari. Setelah muncul gejala, dapat dikelompokan menjadi 2 fase.

Fase pertama

Fase ini biasanya pada hari pertama sampai hari kelima, yang dirasakan antara lain.

  1. Demam
  2. Sakit kepala
  3. Kelenjar getah bening membengkak ( limfadenopati )
  4. Nyeri punggung
  5. Nyeri otot
  6. Lemas

Fase Kedua

Fase ini biasanya terjadi satu sampai tiga hari setelah munculnya demam. Pada fase ini akan muncul lesi – lesi air yang terkonsentrasi pada wajah, tangan, dan kaki. Selain itu, lesi ini bisa juga muncul pada mulut, bagian mata, ataupun alat genital. Setelah itu, lesi ini akan pecah, mengering, dan mengelupas. Ada ditemukan juga tanpa kemunculan lesi air tetapi ruam merah pada kulit. Penyakit ini belum ada obatnya sampai saat ini tetapi akan sembuh dengan sendirinya dua sampai empat minggu. Pasien tetap harus berhati – hati dan selalu berkonsultasi dengan dokter.

Bagaimana cara mencegahnya?

Ada beberapa hal yang harus diketahui untuk mencegah infeksi virus cacar air, diantaranya :

  1. Menjaga protokol kesehatan 5M
    Menjaga kebersihan dengan mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas untuk mencegah penularan virus.
  2. Hindari kontak dengan pasien
    Meminimalisir dan menghindari bersentuhan dengan pasien yang terinfeksi.
  3. Tidak berbagi barang – barang pribadi
    Memisahkan segala barang – barang pribadi pasien dan mengisolasikan diri guna mencegah penularan cacar monyet lebih luas lagi.
  4. Menghindari kontak dengan hewan liar
    Cacar monyet menyebar tidak hanya dari manusia ke manusia tetapi bisa dari hewan ke manusia. Maka dari itu hindari sentuhan langsung dengan hewan yang mempunyai indikasi terinfeksi virus.
  5. Memasak makanan daging dengan matang
    Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menghimbau agar memasak daging dengan benar dan matang agar virus yang ada di daging cepat mati.
  6. Menjaga daya tahan tubuh
    Sudah selayaknya sebagai manusia kita harus memenuhi kebutuhan vitamin dalam diri untuk meningkatnan daya tahan tubuh dan menjaga tubuh agar tetap bugar.
Editor: Farhan

Baca berikutnya

Penggunaan Testpen Sebagai Alat Pendeteksi Arus Listrik

Penggunaan Testpen Sebagai Alat Pendeteksi Arus Listrik

Tridinamika.com - 1/09/2022, 14:00 WIB

Tridinamika.com – Penggunaan testpen sebagai alat deteksi ada tidaknya arus listrik pada penghantar listrik sangatlah penting untuk memdiagnosa awal kemungkinan malfungsi. Testpen sebagai alat penunjang pekerjaan memudahkan dalam mendeteksi dengan cepat. Berbagai macam testpen yang beredar di pasaran dari harga termurah sampai dengan yang termahal disesuaikan dengan kapasitas dan kualitas dari testpen itu sendiri.

Apa itu Testpen ?

Tespen merupakan alat penting penunjang bagi para teknisi listrik dan teknisi elektronik. Dengan tespen listrik, teknisi dapat mendiagnosa awal kemungkinan malfungsi terhadap alat – alat penghantar listrik yang sedang dicek. Seperti layaknya pulpen, tespen berukuran kecil dan mudah untuk dibawa sehingga dapat diselipkan di dalam saku untuk mempermudah kerja.

Pada dasarnya tespen adalah sebuah alat ukur untuk mengecek apakah ada atau tidaknya muatan arus listrik pada alat penghantar listrik tertentu. Alat yang dimaksud di sini adalah seperti stop kontak, kabel listrik, dll. Pada tespen AC, bentuk ujung berbentuk minus ( – ) memungkinkan juga untuk menjadi alat pelepas dan pemasang skrup yang ada di alat – alat penghantar listrik.

Jika dibandingkan dengan multimeter yang bisa mengetahui nilai tegangan listrik atau yang lainnya, tespen tidak dapat digunakan untuk mengetahui nilai tegangan listrik. Tespen hanya digunakan untuk mengetahui ada tidaknya arus listrik pada penghantar alat listrik dengan sebuah indikator lampu. Apabila pada penghantar terdapat arus listrik, maka lampu indikator pada tespen akan menyala, sedangkan bila penghantar tidak terdapat arus listrik, maka lampu indikator pada tespen tidak menyala.

Apa Perbedaan Testpen AC dan Testpen DC ?

Sebenarnya penggunan tespen AC sangatlah mudah tetapi kita tidak bisa menyepelekan juga karena kita berhadapan dengan arus listrik. Tapi tidak ada salahnya apabila kita mencoba belajar dengan orang yang berkompeten dalam kelistrikan. Agar terhindar dari resiko yang disebabkan oleh arus listrik karena kesalahan penggunaan. Penggunaan tespen AC adalah dengan mencolokkan ujung tespen / probe ke penghantar listrik, selanjutnya dengan ujung jari telunjuk kita menekan bagian belakang tespen AC tersebut. Apabila lampu indikator menyala, maka pada penghantar tersebut terdapat arus listrik, begitupula sebaliknya.

Photo Copyrighted by Mohamed Nuzrath

Penggunaan tespen DC juga mudah untuk digunakan. Resiko tersetrum pada arus DC sangat kecil sehingga aman untuk melakukan pengetesan. Dengan mencolokkan ujung tespen yang tajam ke penghantar yang ingin di cek, selanjutnya menyambungkan kabel penjepit ke ground / massa terdekat. Sama dengan tespen AC, apabila lampu indikatornya menyala maka penghantar tersebut terdapat arus listrik, begitupula sebaliknya.

Photo Copyrighted by Pinterest

Di dalam penggunaan tespen AC biasa, umumnya kita menyentuhkan langsung ujung tespen AC ke tembaga / besi penghantar listrik untuk memastikan ada atau tidaknya arus listrik di penghantar tersebut dan resiko tersetrum sangatlah besar. Saat ini terdapat tespen AC tanpa kontak sehingga mengurangi resiko kita tersetrum ketika proses pengecekan. Dengan begitu, kita tetap aman dalam melakukan pengecekan. Penggunaan tespen AC non kontak hanya dengan mendekatkan ujung tespen ke penghantar tanpa harus menempelkan ke besi penghantar, nanti otomatis tespen akan mendeteksi dengan sendirinya. Tridinamika Jaya Instrument menjual tespen AC non kontak merk Chauvin Arnoux seri CA732 dengan harga terbaik. Produk tersebut bisa dibeli di Marketplace Tokopedia di link ini ataupun Marketplace Shopee di link ini.

Photo Copyrighted by Chauvin Arnoux
Editor: Farhan

Baca berikutnya